Sudah Ngelawak Sejak SD
Siapa yang tidak mengenal dengan Cak Bei
? Pelawak yang cukup lama mengasuh acara Wedang Cor TV Lokal Jember.
Namun, masih jarang yang tahu sejatinya profesi Cak Bei adalah guru SMK.
Malah kini Cak Bei diberi amanah Bupati M>Z>A Djalal menjadi
kepala SMKN 3 Jember.
SMKN 3 Jember memperingati Hari Pahlawan 10 November 2014 dengan cara yang unik. Ribuan siswa dan guru SMKN 3 Jember menggelar upacara peringatan Hari Pahlawan di tengah Sungai Bedadung.
SMKN 3 Jember memperingati Hari Pahlawan 10 November 2014 dengan cara yang unik. Ribuan siswa dan guru SMKN 3 Jember menggelar upacara peringatan Hari Pahlawan di tengah Sungai Bedadung.
Pernah Juara Lomba Lawak Pelajar
Tidak hanya itu, usai upacara para siswa membersihkan sampah di sungai yang memberlah Kota Jember tersebut.
Tak pelak, peringatan Hari Pahlawan yang dilakukan SMKN 3 Jembersungguh beda. Kegiatan hari pahlawan itu atas ide Suprihartono alis Cak Bei yang belum lama menjabat Kepala SMKN 3 Jember. Saat masih bertugas di SMKN 1 Jember, Cak Bei juga sempat membuat drama kolosal perang kemerdekaan. Drama kolosal itu melibatkan ribuan siswa dan guru SMKN 1 Jember waktu itu.
Ide kreatif Cak Bei itu disalurkan saat menjadi Kepala SMKN 3 Jember. Dengan pakaian pejuang kemerdekaan, Cak Bei memimpin upacara peringatan Hari Pahlawan 10 November di sungai Bedadung Senin (10/11) lalu. "Saya ingin kita selalu mengenang jasa para pahlawan. Tentu bukan dengan mengangkat senjata tetapi bisa langkah kecil membersihkan sampah di sungai," ungakap Cak Bei Kepada Jawa Pos Radar Jember. Hampir semua warga SMKN 3 Jember terjun langsung ke sungai di bawah Gladak Kembar Jember.
Nah, disela-sela kesibukan itu, ada dua orang yang tampak berbincang-bincang tanpa lepas dari sorotan kamera. Dalam kegiatan itu tampak salah satu adegan dagelan yang biasa tampil di acara televisi lokal di Jember. Orang itu tidak hanya sekedar syuting. Keduanya adalah tokoh lawak Wedang Cor di TV Lokal Jember. Mereka adalah Cak Bei dan Cak Londo.
Dalam syuting itu Cak Bei bukan lagi sebagai pemandu acara. Namun sebagai narasumber kegiatan Hari Pahlawan yang diselenggarakan SMKN 3 Jember. Sebab, Cak Bei sejak Agustus 2014 lalu baru menjabat sebagai Kepala SMKN 3 Jember.
Tentu banyak yang berbicara, Cak Bei yang biasa mengisi acara guyonan bisa menjadi Kepala SMKN 3 Jember? Cak Bei mengaku tidak perbah bercita-cita menjadi kepala sekolah. Gurupun tidak. "Saya tidak pernah bercita-cita menjadi guru," tutur Cak Bei membuka pembicaraan.
Dia mengaku sejak kecil tertarik dengan dunia panggung dan seni peran. Bahkan sejak dirinya masih duduk di bangku sekolah dasar. Bahkan, saat di bangku SD Cak Bei sudah hafal hampir semua aktor pelawak di Indonesia. Hingga akhirnya saat kelas 2 SMP dirinya bersama dengan dua orang temannya Solihin dan Mahmud membentuk group lawak Surya Group. Group anak SMP sempat mengikuti lomba lawak se-Jawa Timur di TVRI Surabaya.
"Kami menjadi harapan 1 (juara 4). Kami satu-satunya group lawak dari pelajar," tutur Cak Bei. Saat itu mereka kalah dari Siswo Budoyo Jember, Jarono Joisin, dan Purnama Group yang diisi basuki dan sebagainya. Hadiah yang diperoleh tidak seberapa. Namun kebanggan terus terpatri di hati Cak Bei. Jiwa seni itu terus tertanam di hati bahkan saat dirinya masuk SMEA hingga di bangku kuliah.
Karena itu, Cak Bei tak menyangka bisa menjadi guru. MEnjadi gurupun bisa dikatak kebetulan. Usai lulus SMEA Cak Bei berangkat ke Surabaya mengejar cita-citanya di Universitas Widya Mandala Surabaya.
Namun Jiwa seni tidak dapat luntur begitu saja. Cak Bei muda lebih banyak menghabiskan waktunya di THR Surabaya, dimana saat itu masih booming 'Srimulat' dengan Asmuni sebagai tokoh utamanya. "Bukan ikut manggung, tapi itu ewang usung-usung (kerja angkat-angkat)," jelasnya. Hal itu rela dilakukannya hampir setiap malam tanpa mendapatkan bayaran sepeserpun.
Dirinya hanya ingin melihat pertunjukan di gedung di gedung yang selalu ramai setiap malam itu. Namun, pengalaman untuk dekat dengan anggota 'Srimulat' itu tidak bisa berlangsung lama. Karena tiba-tiba didinya mendapatkan undangan dari Vocational Education Development Center (VEDC), yakni lembaga pendidikan Indonesia Australia di Jakarta. "Saya tidak tahu sekolah itu tentang apa. Yang penting dapat beasiswa langsung berangkat," jelas Cak Bei.
Baru ketika masa orientasi di kampus tersebut, dirinya baru tahu bahwa itu merupakan lembaga pendidikan yang menggodok calon guru-guru untuk sekolah kejuruan yang mulai disiapkan di Indonesia. Saat itu memang masih kekurangan guru untuk sekolah kejuruan. Tapi dirinya saat itu sudah tidak bisa putar balik dan melanjutkan pendidikan S1 hingga tuntas di sana. Bahkan, dirinya tidak menyangka selama kuliah sudah tiga kali ke Australia untuk mengikuti program pertukaran pelajar.
Tahun 1987, Cak Bei baru masuk ke Jember karena ada program ikatan Dinas. Dirinya ditempatkan di SMEA 1 Jember yang sekarang SMKN 1 Jember dengan mengajar seperti kejuruan saat kuliah yakni bisnis departement. "Ahli bakulan karena di penjualan," jelasnya. Dirinya pun sempat menjadi ketua program penjualan. Dirinya ingin membuang image jika tata niaga bukanlah jurusan buangan.
Namun, sekitar tahun 1991, dirinya dipercaya untuk mengurus keahlian parawisata. Dimana saat itu di Jawa Timur hanya ada tiga sekolah yakni SMKN 1 Jember, SMKN 3 Surabaya, dan SMKN 1 Malang. Dirinya semoat disekolahkan di Enhai Bandung yang kini menjadi Sekolah Tinggi Parawisata. Satu perubahan yang pernah dilakukannya yakni satu-satunya sekolah bahkan di Indonesia yang menggunakan dasi. Dirinya sengaja memperkenalkan itu karena meang ingin membuat anak parawisata dapat berpakaian seragam yang lebih sopan, karena memang itu yang dijual yakni kepantasan.
Dirinya sempat dicemooh karena dikira berjualan kacang. Namun lambat laun hal itu menjadi trandsetter di kalangan anak sekolah tahun 1990-an. Selanjutnya di akhir 2000-an dirinya disuruh memegang bisang broadcester. Bahkan dari prestasi ini dirinya bisa menularkan tiga program yang diadopsi di TV lokal. Diantaranya Pokoke Jember, Ayo Sekolah dan Prol Tape. Dimana semua produksi dan penyiarannya digarap oleh murid-muridnya di SMKN 1 Jember hingga dapat dijadikan sebagai ajang magang dan bisa on air di sejumlah stasiun TV Lokal Jember.
Baru kemudian tahun 2014, nasib berubah dan membuatnya harus berpisah dengan SMKN 1 Jember. Cak Bei kini dipercayaoleh Dinas Pendidikan menjadi kepala di SMKN3 Jember. Dirinya pun harus berjuang untuk membesarkan nama sekolah yang kini dipimpinnya itu. Dirinya mengaku siap untuk berjuang bersama dengan SMKN 3 Jember untuk menjadi yang terbaik memberikan pelayanan pendidikan kepada masyarakat. (aro)
Tidak hanya itu, usai upacara para siswa membersihkan sampah di sungai yang memberlah Kota Jember tersebut.
Tak pelak, peringatan Hari Pahlawan yang dilakukan SMKN 3 Jembersungguh beda. Kegiatan hari pahlawan itu atas ide Suprihartono alis Cak Bei yang belum lama menjabat Kepala SMKN 3 Jember. Saat masih bertugas di SMKN 1 Jember, Cak Bei juga sempat membuat drama kolosal perang kemerdekaan. Drama kolosal itu melibatkan ribuan siswa dan guru SMKN 1 Jember waktu itu.
Ide kreatif Cak Bei itu disalurkan saat menjadi Kepala SMKN 3 Jember. Dengan pakaian pejuang kemerdekaan, Cak Bei memimpin upacara peringatan Hari Pahlawan 10 November di sungai Bedadung Senin (10/11) lalu. "Saya ingin kita selalu mengenang jasa para pahlawan. Tentu bukan dengan mengangkat senjata tetapi bisa langkah kecil membersihkan sampah di sungai," ungakap Cak Bei Kepada Jawa Pos Radar Jember. Hampir semua warga SMKN 3 Jember terjun langsung ke sungai di bawah Gladak Kembar Jember.
Nah, disela-sela kesibukan itu, ada dua orang yang tampak berbincang-bincang tanpa lepas dari sorotan kamera. Dalam kegiatan itu tampak salah satu adegan dagelan yang biasa tampil di acara televisi lokal di Jember. Orang itu tidak hanya sekedar syuting. Keduanya adalah tokoh lawak Wedang Cor di TV Lokal Jember. Mereka adalah Cak Bei dan Cak Londo.
Dalam syuting itu Cak Bei bukan lagi sebagai pemandu acara. Namun sebagai narasumber kegiatan Hari Pahlawan yang diselenggarakan SMKN 3 Jember. Sebab, Cak Bei sejak Agustus 2014 lalu baru menjabat sebagai Kepala SMKN 3 Jember.
Tentu banyak yang berbicara, Cak Bei yang biasa mengisi acara guyonan bisa menjadi Kepala SMKN 3 Jember? Cak Bei mengaku tidak perbah bercita-cita menjadi kepala sekolah. Gurupun tidak. "Saya tidak pernah bercita-cita menjadi guru," tutur Cak Bei membuka pembicaraan.
Dia mengaku sejak kecil tertarik dengan dunia panggung dan seni peran. Bahkan sejak dirinya masih duduk di bangku sekolah dasar. Bahkan, saat di bangku SD Cak Bei sudah hafal hampir semua aktor pelawak di Indonesia. Hingga akhirnya saat kelas 2 SMP dirinya bersama dengan dua orang temannya Solihin dan Mahmud membentuk group lawak Surya Group. Group anak SMP sempat mengikuti lomba lawak se-Jawa Timur di TVRI Surabaya.
"Kami menjadi harapan 1 (juara 4). Kami satu-satunya group lawak dari pelajar," tutur Cak Bei. Saat itu mereka kalah dari Siswo Budoyo Jember, Jarono Joisin, dan Purnama Group yang diisi basuki dan sebagainya. Hadiah yang diperoleh tidak seberapa. Namun kebanggan terus terpatri di hati Cak Bei. Jiwa seni itu terus tertanam di hati bahkan saat dirinya masuk SMEA hingga di bangku kuliah.
Karena itu, Cak Bei tak menyangka bisa menjadi guru. MEnjadi gurupun bisa dikatak kebetulan. Usai lulus SMEA Cak Bei berangkat ke Surabaya mengejar cita-citanya di Universitas Widya Mandala Surabaya.
Namun Jiwa seni tidak dapat luntur begitu saja. Cak Bei muda lebih banyak menghabiskan waktunya di THR Surabaya, dimana saat itu masih booming 'Srimulat' dengan Asmuni sebagai tokoh utamanya. "Bukan ikut manggung, tapi itu ewang usung-usung (kerja angkat-angkat)," jelasnya. Hal itu rela dilakukannya hampir setiap malam tanpa mendapatkan bayaran sepeserpun.
Dirinya hanya ingin melihat pertunjukan di gedung di gedung yang selalu ramai setiap malam itu. Namun, pengalaman untuk dekat dengan anggota 'Srimulat' itu tidak bisa berlangsung lama. Karena tiba-tiba didinya mendapatkan undangan dari Vocational Education Development Center (VEDC), yakni lembaga pendidikan Indonesia Australia di Jakarta. "Saya tidak tahu sekolah itu tentang apa. Yang penting dapat beasiswa langsung berangkat," jelas Cak Bei.
Baru ketika masa orientasi di kampus tersebut, dirinya baru tahu bahwa itu merupakan lembaga pendidikan yang menggodok calon guru-guru untuk sekolah kejuruan yang mulai disiapkan di Indonesia. Saat itu memang masih kekurangan guru untuk sekolah kejuruan. Tapi dirinya saat itu sudah tidak bisa putar balik dan melanjutkan pendidikan S1 hingga tuntas di sana. Bahkan, dirinya tidak menyangka selama kuliah sudah tiga kali ke Australia untuk mengikuti program pertukaran pelajar.
Tahun 1987, Cak Bei baru masuk ke Jember karena ada program ikatan Dinas. Dirinya ditempatkan di SMEA 1 Jember yang sekarang SMKN 1 Jember dengan mengajar seperti kejuruan saat kuliah yakni bisnis departement. "Ahli bakulan karena di penjualan," jelasnya. Dirinya pun sempat menjadi ketua program penjualan. Dirinya ingin membuang image jika tata niaga bukanlah jurusan buangan.
Namun, sekitar tahun 1991, dirinya dipercaya untuk mengurus keahlian parawisata. Dimana saat itu di Jawa Timur hanya ada tiga sekolah yakni SMKN 1 Jember, SMKN 3 Surabaya, dan SMKN 1 Malang. Dirinya semoat disekolahkan di Enhai Bandung yang kini menjadi Sekolah Tinggi Parawisata. Satu perubahan yang pernah dilakukannya yakni satu-satunya sekolah bahkan di Indonesia yang menggunakan dasi. Dirinya sengaja memperkenalkan itu karena meang ingin membuat anak parawisata dapat berpakaian seragam yang lebih sopan, karena memang itu yang dijual yakni kepantasan.
Dirinya sempat dicemooh karena dikira berjualan kacang. Namun lambat laun hal itu menjadi trandsetter di kalangan anak sekolah tahun 1990-an. Selanjutnya di akhir 2000-an dirinya disuruh memegang bisang broadcester. Bahkan dari prestasi ini dirinya bisa menularkan tiga program yang diadopsi di TV lokal. Diantaranya Pokoke Jember, Ayo Sekolah dan Prol Tape. Dimana semua produksi dan penyiarannya digarap oleh murid-muridnya di SMKN 1 Jember hingga dapat dijadikan sebagai ajang magang dan bisa on air di sejumlah stasiun TV Lokal Jember.
Baru kemudian tahun 2014, nasib berubah dan membuatnya harus berpisah dengan SMKN 1 Jember. Cak Bei kini dipercayaoleh Dinas Pendidikan menjadi kepala di SMKN3 Jember. Dirinya pun harus berjuang untuk membesarkan nama sekolah yang kini dipimpinnya itu. Dirinya mengaku siap untuk berjuang bersama dengan SMKN 3 Jember untuk menjadi yang terbaik memberikan pelayanan pendidikan kepada masyarakat. (aro)
Jadikan SMKN 3 Jember Sekolah Berstandart Industri
JEMBER - Cak Bei begitu dipercaya menjadi Kepala SMkN 3 Jember langsung berusaha melakukan beberapa perubahan. Salah satunya menjadikan SMKn 3 Jember menjadi sekolah berstandart Industri.
Itu dilakukan untuk menyiapkan anak didik siap kerja sekaligus untuk menyongsong pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) tahun 2015 mendatang. Untuk itu, kini SMKN 3 Jember kian mempererat kerja sama denga kalangan industri. Khususnya yang terkait langsung dengan sejumlah keahlian di SMKN 3 Jember
Bahkan, SMKN 3 Jember kini telah mendeklerasikan diri senagai sekolah berstandart industri. "Dengan langkah konkrit kerjasama dengan banyak perusahaan serta adanya program akselerasi standart industri maka seluruh warga sekolah bersama komite sekolah menetapkan SMKN 3 Jember sebagai sekolah berstandart Industri," tutur Suprihartono, SPd, Kepala SMKN 3 Jember kepada Jawa Pos Radar Jember.
Dia menuturkan, SMKN 3 Jember meruapakan sekolah kejuruan berbasis parawisata dengan paket keahlian Busana Butik, Jasa Boga, Patiseri, Kecantikan Rambut, Akomodasi Pehotelan, Usaha Perjalanan Wisata. "SMKN 3 Jember kini juga mengembangkan program keahlian teknologi komputer dan informatika dengan keahlian muti media, teknik komputer jaringan dan rekayasa perangkat lunak," ungkap mantan guru SMKN 1 Jember tersebut.
Dia menjelaskan, SMKN 3 Jember telah memiliki peralatan dan sarana praktik yang berstandart Industri. "Baik yang dibantu pemerintah, industri, maupun yang beli sendiri," ungkap pria yang dikenal dengan sebutan Pak Bei yang sempat punya program di salah satu TV swasta di Jember tersebut.
Tak hanya itu, SMKN 3 Jember juga terus berupaya meningkatkan kualitas kompetensi guru dan siswanya. Salah satunya melalui program akselerasi standart industri. Komepetensi standart industri secara periodik digelar kegiatan yang meningkatkan kompetensi guru dan siswa. "salah satu stadartisasi industri dengan mengundang guru tamu dan industri. Guru tamu dari kalangan Industri bisa berbagi pengetahuan dan pengalaman denan guru dan siswa SMKN 3 Jember," imbuh Cak Bei.
Untuk guru-guru, sudah disiapkan anggaran guna mendatangkan tim dari dunia industri serta memagangkan guru-guru juga akan diajak untuk mengunjungi tempat-tempat industri, dengan maksud untuk study banding agar guru-guru dapat selalu mengupdate perkembangan dunia industri.
Kedua dengan mengadakan kegiatan kunjungan industri secara rutin untk mengetahui secara langsung perubahan perlatan atau teknologi yang digunakan di industri. Perkembangan itu harus selalu diikuti sekolah baik guru dan siswa agar tidak ketinggalan dengan kemajuan zaman," ujarnya.
Ketiga mengikuti workshop, pelatihan atau sejenisnya. Baik dilakukan sendiri, mengikuti kegiatan yang dilaksanakan kalangan organisasi industri. Kegiatan tersebut biasanya dilakukan oleh ASITA, PHRI, asosiasi pengusaha jasa boga Indonesia, gabungan pengusaha garmet Indonesia, asosiasi jasa telakomunikasi Indonesia. (aro)
JEMBER - Cak Bei begitu dipercaya menjadi Kepala SMkN 3 Jember langsung berusaha melakukan beberapa perubahan. Salah satunya menjadikan SMKn 3 Jember menjadi sekolah berstandart Industri.
Itu dilakukan untuk menyiapkan anak didik siap kerja sekaligus untuk menyongsong pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) tahun 2015 mendatang. Untuk itu, kini SMKN 3 Jember kian mempererat kerja sama denga kalangan industri. Khususnya yang terkait langsung dengan sejumlah keahlian di SMKN 3 Jember
Bahkan, SMKN 3 Jember kini telah mendeklerasikan diri senagai sekolah berstandart industri. "Dengan langkah konkrit kerjasama dengan banyak perusahaan serta adanya program akselerasi standart industri maka seluruh warga sekolah bersama komite sekolah menetapkan SMKN 3 Jember sebagai sekolah berstandart Industri," tutur Suprihartono, SPd, Kepala SMKN 3 Jember kepada Jawa Pos Radar Jember.
Dia menuturkan, SMKN 3 Jember meruapakan sekolah kejuruan berbasis parawisata dengan paket keahlian Busana Butik, Jasa Boga, Patiseri, Kecantikan Rambut, Akomodasi Pehotelan, Usaha Perjalanan Wisata. "SMKN 3 Jember kini juga mengembangkan program keahlian teknologi komputer dan informatika dengan keahlian muti media, teknik komputer jaringan dan rekayasa perangkat lunak," ungkap mantan guru SMKN 1 Jember tersebut.
Dia menjelaskan, SMKN 3 Jember telah memiliki peralatan dan sarana praktik yang berstandart Industri. "Baik yang dibantu pemerintah, industri, maupun yang beli sendiri," ungkap pria yang dikenal dengan sebutan Pak Bei yang sempat punya program di salah satu TV swasta di Jember tersebut.
Tak hanya itu, SMKN 3 Jember juga terus berupaya meningkatkan kualitas kompetensi guru dan siswanya. Salah satunya melalui program akselerasi standart industri. Komepetensi standart industri secara periodik digelar kegiatan yang meningkatkan kompetensi guru dan siswa. "salah satu stadartisasi industri dengan mengundang guru tamu dan industri. Guru tamu dari kalangan Industri bisa berbagi pengetahuan dan pengalaman denan guru dan siswa SMKN 3 Jember," imbuh Cak Bei.
Untuk guru-guru, sudah disiapkan anggaran guna mendatangkan tim dari dunia industri serta memagangkan guru-guru juga akan diajak untuk mengunjungi tempat-tempat industri, dengan maksud untuk study banding agar guru-guru dapat selalu mengupdate perkembangan dunia industri.
Kedua dengan mengadakan kegiatan kunjungan industri secara rutin untk mengetahui secara langsung perubahan perlatan atau teknologi yang digunakan di industri. Perkembangan itu harus selalu diikuti sekolah baik guru dan siswa agar tidak ketinggalan dengan kemajuan zaman," ujarnya.
Ketiga mengikuti workshop, pelatihan atau sejenisnya. Baik dilakukan sendiri, mengikuti kegiatan yang dilaksanakan kalangan organisasi industri. Kegiatan tersebut biasanya dilakukan oleh ASITA, PHRI, asosiasi pengusaha jasa boga Indonesia, gabungan pengusaha garmet Indonesia, asosiasi jasa telakomunikasi Indonesia. (aro)
Tetap Lanjutkan Aksi di Panggung
MESKIPUN bukan orang asli Jember, namun Cak Bei mengaku sudah mendarah daging dengan Jember, dan akan tetap aktif di dunia panggung meskipun menjadi kepala sekolah. Dirinya tidak pernah punya niatan meninggalkan Jember. Dirinya sudah jatuh hati sejak pertama kali menginjakkan kaki di Jember pada 1987 lalu. Terutama dengan keramahan dan murahnya becak di Jember.
Dirinya mengaku saat pertama kali datang ke Jember yakni di Terminal Jember yang saat itu masih di Pasar Gebang. Sedangkan SMKN 1 Jember ada di Gedung GNI Jember yang kini menjadi SMPN 12 Jember. Begitu turun, dirinya yang baru dari Jakarta sempat naik becak. "Saya kaget harganya murah sekali," jelasnya. Jika di Surabaya biayanya sama dengan 1 kg beras, sedangkan di Jember hanya sekitar harga beras 2 ons.
Itulah yang kemudian membuat dirinya cinta dengan Jember dan menetap hingga sekarang.Hawanya diakui sangat sejuk dingin serta tidak terlalu ramai. Sehingga cocok untuk karakternya. Selain itu, dirinya sehari menginjak kaki di Jember sudah langsung hafal semua jalannya. Padahal lokasinya lumayan luas. "Meskipun heterogen orangnya baik-baik," jelas Cak Bei.
Dia menjelaskan pertama kali berkiprah di dunia panggung Jember setelah sempat vakum lama saat berdinas di Jember. Sekitar tahun 1991 dirinya bertemu dengan AlmarhumCak Idham, pegawai departemen penerangan yang kebetulan anaknya sekolah di SMKN 1 Jember. Setelah bertemu, ternyata memiliki hobi yang cocok yakni pelawak. Akhirnya dirinya mulai siaran acara pedesaan di RRI Jember setiap jumat malam.
Kemudian juga bertemu dengan mbak Santi yang kini menjadi pegawai Dinsos dengan mengisi acara di salah satu radio lokal Jember. Dirinya pun kemudian banyak mengisi acara dari hajatan ke hajatan.
Terutama hajtan resmi seperti lepas pisah pejabat atau kenaikan pangkat dan sebagainya. "Kebanyakannya memang ditangkap instansi," jelasnya. Puncak karirnya di dunia panggung saat Bupati MZA Djalal menjalankan dialog solutif sejak 2005 lalu. Bersama Cak Idham, dirinya mengikuti roadshow bupati dari desa ke desa di Jember. Bahkan, sempat diawal menginjak kaki di Sukowono, keduanya dibuat mati kutu oleh audience di sana."Karena saat itu semua warga pakai bahasa Madura, sedangkan guyonan ludrukan kami Jawa," jelasnya. Karena ada miss bahasa inilah membuat bahan guyonan lucu menjadi tidak lucu karena tidak tersampaikan dengan utuh. Mereka sempat dibuat keringetan panas dingin di atas panggung karena tidak ada yang tertawa. Untung saja, mereka diselamatkan saat bupati tertawa dan memberikan applaus.
"Karena bupati yang tepuk tangan semua ikut dan tertawa. Mungkin bupati tahu kami mati kutu," ujarnya. Dalam kegiatan ini, juga ada momen yang tidak terlupakanyakni dirinya bahkan menjadi saksi hidup saat cak Idham meninggal di panggung saat mengisi acara dialog solutif di Sukorambi Jember.
"Saat itu saya kira guyonan," ujarnya dengan berkaca-kaca. Bahkan, dari sini Cak Bei sempat terpukul karena kehilangan sahabat dan juga panutannya. Cak Idham menjadi teladan dan guru baginya. Karena dengan Cak Idham, dirinya sering tanpa dialog lebih dulu dan mengalir saat sudah ada di panggung. Dirinya sangat hormat dengan almarhum dan tetap menganggap sebagai panutan.
Namun, the show must go on.Kini bersama dengan Cak Londo, keduanya terus mencoba melestarikan dan menghidupkan budaya guyonan lawak di Jember. Cak Bei bahkan tidak akan meninggalkan dunia panggung meskipun kini menjadi kepala sekolah. "Minimal harus bisa menempatkandiri kapan saat serius membangun sekolah," pungkasnya. (ram/aro)
Tak Bermimpi Menjadi Kepala Sekolah
CAK BEI tidak pernah menyangka dirinya kini menjadi Kepala sekolah di SMKN 3 Jember. Pasalnya, dirinya sama sekali tidak memiliki ambisi untuk jabatan itu. Namun, nasib membawanya di jabatannya kini. Dirinya mengaku siap untuk melanjutkan mimpi bersama SMKN 3 Jember untuk terbang tinggi di Jember.
Awal mula menjadi kepala sekolah dirinya antara niat dan tidak niat. Pasalnya, Cak Bei selalu menolak saat Lutfi, Kepala SMKN 1 Jember mendaftarkannya ke dalam seleksi calon kepada sekolah. Namun, tahun 2013 tiba-tiba dirinya didaftarkan dan dipanggil ikut ujian di Surabaya. Awalnya hanya saat berangkat. Hari pertama saat ujian psikotest hanya asal-asalan. "Tapi istri telepon dan meminta serius, karena kedatangan ke Surabaya sendiri sudah memakan waktu dan tenaga jadi kenapa tidak serius," jelas Cak Bei.
Lantas Cak Bei benar-benar serius mengikuti ujian kedua yang berisi ujian tulis dan presentasi makalah. Hingga akhirnya dirinya diberi kepercayaan menjabat kepala SMKN 3 Jember.
Awal masuk, Cak Bei kagum dengan kemampuan guru-guru yang profesional dan kompeten dibidangnya masing-masing di SMKN 3 Jember. Begitu juga dengansiswa yang antusias dan kemampuannya tidak kalah dengan yang lain.
Namun, dirinya juga sempat heran mengapa SMK dengan 9 jurusan ini selalu menjadi sekolah SMK di kota dan pinggir jalan tetapi saat penerimaan siswa baru selalu membuka gelombang dua. Berarti ada kuota yang tidak terpenuhi. Hal inilah yang menjadi PR bagi dirinya dan kemudian bertekad untuk merubah image tersebut. Yang paling melihat mencolok adalah bentuk fisik bangunan yang terlihat sudah tua.
Terutama wajah depan yang terlihat kurang ceria. "Orang datang kan melihat sisi depan. Kalau depannya tidak menyakinkan, bagaimana bisa mempercayakan anaknya sekolah di sini," tutur Cak Bei.
Kebijakan yang pertama diambilnya adalah memugar gapura dan papan nama depan SMKN 3 Jember. Ini sebagai langkah untuk menjual sekolah kepada masyarakat. Pihaknya juga meningkatkan layanan kepada siswa selaku costumer dengan membuat parkiran yang representatif untuk siswa agar kerasan di sekolah.
Dirinya juga ingin bahwa SMKN 3 Jember hanya untuk anak perempuan saja. Namun juga banyak anak laki-laki. Sehingga pihaknya beberapa kegiatan dan kebijakan selalu mengenalkan image kelaki-lakian. Salah satunya dengan upacara di pinggir sungai sekaligus bersih-bersih saat peringaatan hari pahlawan kemarin.
Dirinya juga memiliki mimpi menjadikan SMK benar-benar idealnya SMK. "Dimana anak lulus dapat langsung kerja," jelas Supri. Pihaknya tidak ingin anak menjadi SMK yang imaginatif, maksudnya ijazahnya ternyata tidak sesuai dengan kemampuan dan keterampilan yang dimiliki dan tidak bisa apa-apa. Karena itu, dengan semakin banyak praktik akan lebih efektif dibandingkan banyak ngecepek (bicara, Red).
Selain itu, dirinya sangat ingin semua anak lulusan SMKN 3 memiliki keterampilan dengan standar industri. (ram/aro)
Sumber : Radar Jember, Sabtu, 15 November 2014
MESKIPUN bukan orang asli Jember, namun Cak Bei mengaku sudah mendarah daging dengan Jember, dan akan tetap aktif di dunia panggung meskipun menjadi kepala sekolah. Dirinya tidak pernah punya niatan meninggalkan Jember. Dirinya sudah jatuh hati sejak pertama kali menginjakkan kaki di Jember pada 1987 lalu. Terutama dengan keramahan dan murahnya becak di Jember.
Dirinya mengaku saat pertama kali datang ke Jember yakni di Terminal Jember yang saat itu masih di Pasar Gebang. Sedangkan SMKN 1 Jember ada di Gedung GNI Jember yang kini menjadi SMPN 12 Jember. Begitu turun, dirinya yang baru dari Jakarta sempat naik becak. "Saya kaget harganya murah sekali," jelasnya. Jika di Surabaya biayanya sama dengan 1 kg beras, sedangkan di Jember hanya sekitar harga beras 2 ons.
Itulah yang kemudian membuat dirinya cinta dengan Jember dan menetap hingga sekarang.Hawanya diakui sangat sejuk dingin serta tidak terlalu ramai. Sehingga cocok untuk karakternya. Selain itu, dirinya sehari menginjak kaki di Jember sudah langsung hafal semua jalannya. Padahal lokasinya lumayan luas. "Meskipun heterogen orangnya baik-baik," jelas Cak Bei.
Dia menjelaskan pertama kali berkiprah di dunia panggung Jember setelah sempat vakum lama saat berdinas di Jember. Sekitar tahun 1991 dirinya bertemu dengan AlmarhumCak Idham, pegawai departemen penerangan yang kebetulan anaknya sekolah di SMKN 1 Jember. Setelah bertemu, ternyata memiliki hobi yang cocok yakni pelawak. Akhirnya dirinya mulai siaran acara pedesaan di RRI Jember setiap jumat malam.
Kemudian juga bertemu dengan mbak Santi yang kini menjadi pegawai Dinsos dengan mengisi acara di salah satu radio lokal Jember. Dirinya pun kemudian banyak mengisi acara dari hajatan ke hajatan.
Terutama hajtan resmi seperti lepas pisah pejabat atau kenaikan pangkat dan sebagainya. "Kebanyakannya memang ditangkap instansi," jelasnya. Puncak karirnya di dunia panggung saat Bupati MZA Djalal menjalankan dialog solutif sejak 2005 lalu. Bersama Cak Idham, dirinya mengikuti roadshow bupati dari desa ke desa di Jember. Bahkan, sempat diawal menginjak kaki di Sukowono, keduanya dibuat mati kutu oleh audience di sana."Karena saat itu semua warga pakai bahasa Madura, sedangkan guyonan ludrukan kami Jawa," jelasnya. Karena ada miss bahasa inilah membuat bahan guyonan lucu menjadi tidak lucu karena tidak tersampaikan dengan utuh. Mereka sempat dibuat keringetan panas dingin di atas panggung karena tidak ada yang tertawa. Untung saja, mereka diselamatkan saat bupati tertawa dan memberikan applaus.
"Karena bupati yang tepuk tangan semua ikut dan tertawa. Mungkin bupati tahu kami mati kutu," ujarnya. Dalam kegiatan ini, juga ada momen yang tidak terlupakanyakni dirinya bahkan menjadi saksi hidup saat cak Idham meninggal di panggung saat mengisi acara dialog solutif di Sukorambi Jember.
"Saat itu saya kira guyonan," ujarnya dengan berkaca-kaca. Bahkan, dari sini Cak Bei sempat terpukul karena kehilangan sahabat dan juga panutannya. Cak Idham menjadi teladan dan guru baginya. Karena dengan Cak Idham, dirinya sering tanpa dialog lebih dulu dan mengalir saat sudah ada di panggung. Dirinya sangat hormat dengan almarhum dan tetap menganggap sebagai panutan.
Namun, the show must go on.Kini bersama dengan Cak Londo, keduanya terus mencoba melestarikan dan menghidupkan budaya guyonan lawak di Jember. Cak Bei bahkan tidak akan meninggalkan dunia panggung meskipun kini menjadi kepala sekolah. "Minimal harus bisa menempatkandiri kapan saat serius membangun sekolah," pungkasnya. (ram/aro)
Tak Bermimpi Menjadi Kepala Sekolah
CAK BEI tidak pernah menyangka dirinya kini menjadi Kepala sekolah di SMKN 3 Jember. Pasalnya, dirinya sama sekali tidak memiliki ambisi untuk jabatan itu. Namun, nasib membawanya di jabatannya kini. Dirinya mengaku siap untuk melanjutkan mimpi bersama SMKN 3 Jember untuk terbang tinggi di Jember.
Awal mula menjadi kepala sekolah dirinya antara niat dan tidak niat. Pasalnya, Cak Bei selalu menolak saat Lutfi, Kepala SMKN 1 Jember mendaftarkannya ke dalam seleksi calon kepada sekolah. Namun, tahun 2013 tiba-tiba dirinya didaftarkan dan dipanggil ikut ujian di Surabaya. Awalnya hanya saat berangkat. Hari pertama saat ujian psikotest hanya asal-asalan. "Tapi istri telepon dan meminta serius, karena kedatangan ke Surabaya sendiri sudah memakan waktu dan tenaga jadi kenapa tidak serius," jelas Cak Bei.
Lantas Cak Bei benar-benar serius mengikuti ujian kedua yang berisi ujian tulis dan presentasi makalah. Hingga akhirnya dirinya diberi kepercayaan menjabat kepala SMKN 3 Jember.
Awal masuk, Cak Bei kagum dengan kemampuan guru-guru yang profesional dan kompeten dibidangnya masing-masing di SMKN 3 Jember. Begitu juga dengansiswa yang antusias dan kemampuannya tidak kalah dengan yang lain.
Namun, dirinya juga sempat heran mengapa SMK dengan 9 jurusan ini selalu menjadi sekolah SMK di kota dan pinggir jalan tetapi saat penerimaan siswa baru selalu membuka gelombang dua. Berarti ada kuota yang tidak terpenuhi. Hal inilah yang menjadi PR bagi dirinya dan kemudian bertekad untuk merubah image tersebut. Yang paling melihat mencolok adalah bentuk fisik bangunan yang terlihat sudah tua.
Terutama wajah depan yang terlihat kurang ceria. "Orang datang kan melihat sisi depan. Kalau depannya tidak menyakinkan, bagaimana bisa mempercayakan anaknya sekolah di sini," tutur Cak Bei.
Kebijakan yang pertama diambilnya adalah memugar gapura dan papan nama depan SMKN 3 Jember. Ini sebagai langkah untuk menjual sekolah kepada masyarakat. Pihaknya juga meningkatkan layanan kepada siswa selaku costumer dengan membuat parkiran yang representatif untuk siswa agar kerasan di sekolah.
Dirinya juga ingin bahwa SMKN 3 Jember hanya untuk anak perempuan saja. Namun juga banyak anak laki-laki. Sehingga pihaknya beberapa kegiatan dan kebijakan selalu mengenalkan image kelaki-lakian. Salah satunya dengan upacara di pinggir sungai sekaligus bersih-bersih saat peringaatan hari pahlawan kemarin.
Dirinya juga memiliki mimpi menjadikan SMK benar-benar idealnya SMK. "Dimana anak lulus dapat langsung kerja," jelas Supri. Pihaknya tidak ingin anak menjadi SMK yang imaginatif, maksudnya ijazahnya ternyata tidak sesuai dengan kemampuan dan keterampilan yang dimiliki dan tidak bisa apa-apa. Karena itu, dengan semakin banyak praktik akan lebih efektif dibandingkan banyak ngecepek (bicara, Red).
Selain itu, dirinya sangat ingin semua anak lulusan SMKN 3 memiliki keterampilan dengan standar industri. (ram/aro)
Sumber : Radar Jember, Sabtu, 15 November 2014

